Kamis, 10 Mei 2012

Kurikulum Islam


BAB I
PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Kehidupan dan peradaban manusia di awal milinium ketiga ini mengalami banyak perubahan. Dalam merespon fenomena itu. Manusia berpacu mengembangkan pendidikan di segala bidang ilmu termasuk penerapannya dalam kehidupan sehari-hari. Namun bersamaan dengan itu muncul sejumlah krisi dalam kehidupan berbangsa dan berbegara. Akibatnya, peranan serta efektivitas pendidikan agama di sekolah sebagai pemberi nilai spiritual terhadap kesejahteraan masyarakat di pertanyakan. Dengan asumsi jika pendidikan agam dilakukan dengan baik, maka kehidupan masyarakat pun akan lebih baik.
Kenyataannya, seolah-olah pendidikan agama dianggap kuran memberikan kontribusi ke arah itu. Setelah ditelusuri, pendidikan agama menghadapai beberapa kendala, antara lain : waktu yang disediakan hanya dua jam pelajaran dengan muatan materi yang begitu padat dan memaang penting, yakni menuntut pemantapan pengethuan hingga terbentuk watak dan kepribadian yang berbeda jauh dengan tuntunan terhadap mata pelajaran lainnya.
Apalagi dalam pelaksanaan pendidikan agama tersebut masih terdapat kelemahan-kelamahan yang mendorong dilakukannya penyempurnaan terus menerus. Kelemahan lain, materi pendidikan agama islam, termasuk bahan ajar akhlak. Lebih terfokus pada pengayaan pengetahuan ( kognitif ) dan minim dalam pembentukan sikap ( Afektif ) serta pembiasaan ( Psikomotorik ). Kendala lainadalah kurangnya keikutsertaan guru mata pelajaran lain dalam memberi motivasi kepada peserta didik untuk mempraktekkan nilai-nilai pendidikan agama dalam kehidupan sehari-hari. Lalu lemahnya sumber daya guru dalam pengembangan pendekatan dan metode yang lebih variatif, minimnya berbagai sarana pelatihan dan pengembangan, serta rendahnya peran serta orang tua.
B.     Rumusan Masalah
1.      Apa pengertian Kurikulum islam itu?
2.      Apa unsure-unsur sistem pendidik itu?
3.      Bagaimanakah Substansi kurikulum pendidikan islam itu?
4.      Apa Ciri-ciri kurikulum pendidikan islam itu?
5.      Bagaimanakah Asas dan prinsip kurikulum pendidikan islam itu?
C.     Tujuan Pembahasan
Ingin memahami pengertian kurikulum, unsur-unsur pendidik , substansi, cirri-ciri, asas, serta fungsi kurikulum dalam dunia pendidikan

BAB II
POKOK PEMBAHASAN

A.    Pengertian Kurikulum Islam
Secara etimologi kurikulum berasal dari bahasa yunani, yaitu currier yang artinya pelari dan curure yang berarti jarak yang harus ditempuh oleh pelari. Istilah ini pada mulanya dgunakan dalam dunia olahraga yang berarti :” a litte racecourse”(suatu jarak yang harus ditempuh dalam pertandingan olahraga). Berdasarkan pengertian ini dalam konteksnya dunia pendidikan, memberikan penfertian sebagai “ circe of instruction” yaitu suatu lingkaran pengajaran dimana guru dan murid terlibat didalamnya. Sementara pendapat lain dikemukakan bahwa kurikulum ialah arena pertandingan tempat pelajar bertanding untuk menguasai pelajaran guna untuk mencapai gelar.[1]
Adapun pengertian harfiah kata "kurikulum" berasal dari bahasa latin, a little racecourse( suatu jarak yang harus ditempuh dalam pertandingan olahraga, yang kemudian dialihkan kedalam pengertian pendidikan menjadi circle of instruction yaitu suatu lingkaran pengajaran dimana guru dan murid terlibat didalamnya.
Istilah kurikulum kemudian digunakan untuk menunjukkan tentang segala mata pelajaran yang dipelajari dan juga semua pengalaman yang harus diperoleh serta semua kegiatan yang  harus dilakukan anak. Akan tetapi, bila dibicarakan tentang apa yang disebut experience curriculum atau activity curriculum, maka hal itiu akan menyangkut masalah metode pendidikan. Sesungguhnya apa yang dimaksud dengan experience dan activity curriculum dalam pengertian metode searang, termasuk kurikulum bukan termasuk metode, karena berkaitan dengan penemuan pengalaman dan kegiatan anak didik dalm proses belajar mengajar.[2]
Kurikulum, menurut William B.Ragan, meliputi seluruhh program dan kehidupan disekolah, sebagai juga disampaikan oleh Nasution, bahwa kurikulum dinyatakan ada beberapa penafsiran lain tentang kurikulum diantaranya kurikulum sebagai produk ( hasil pengembangan kurikulum), kurikulum sebagai program ( alat yang dilakukan sekolah  untuk mencapai tujuan), kurikulum sebagai hal-hal yang diharapkan akan dipelajari oleh siswa(sikap, ketrampilan tertentu).
Dalam dunia pendidikan islam, istilah kurikulum (manhaj) adalah sebagai jalan terang yang dilalui pendidik atau guru latih dengan orang-orang yang dididik atau dilatihnya untuk mengembangkan pengetahuan, ketrampilan dan sikap mereka sedangkan menurut Muhammad Ali al-Khauli, pada hakekatnya kurikulum adalah seperangkan perencaan dan media untuk mengantarkan lembaga pendidikan dalam mewwujudkan tujuan pendidikan yang diinginkan. Kurikulum juga dapat sebagai fungsinya sebagai berikut :[3]
1.      Kurikulum sebagai program studi
2.      Kurikulum sebagai konten
3.      Kurikulum sebagai kegiatan berencana
4.      Kurikulum sebagai hasil belajar
5.      Kurikulum sebagai reproduksi cultural
6.      Kurikulum sebagai pengalaman belajar
7.      Kurikulum sebagai produksi
Berdasarkan pengertian diatas dapat digeneralisasikan bahwa pengertian kurikulum adalah kegiatan yang mencakup berbagai macam rencana kegiatan anak didik yang terperinci yang berupa bentuk-bentuk bahan pendidikan, saran-saran strategi belajar mengajar, pengaturan-pengaturan program agar dapat diterapkan dan hal-hal yang mencakup kegiatan yang bertujuan mencapai tujua yang diinginkan.
B. Unsur-unsur SistemPendidikan[4]
Unsur kurikulum
Pada umumnya menyusun kurikulum dibuat berdasarkan pengalaman pribadi dan sosial siswa. Pelajaran yang diberikan sering kali berhubungan dengan ilmu-ilmu sosial agar dapat digunakan untuk menyelesaiakan persoalan berupa pengalaman dan rencana siswa. Namun, karena penyelesaian persoalan itu melibatkan kemampuan komunikasi, proses sistematis, dan pembahasan ilmiah, maka kurikulum yang dirancang secara interdisipliner dengan alam sekitar. Buku dipandang sebagai alat membantu proses belajar, bukan sebagai sumber utama ilmu pengetahuan. Dalam pandangan Al abrasyi, menyusun kurikulum itu hendaknya berpegang pada beberapa prinsip, yaitu : (1) pertimbangan pada adanya pengaruh mata pelajaran itu dalam pendidikan jiwa serta kesempurnaan jiwa; (2) adanya pengaruh suatu pelajaran dalam menjalani cara hidup yang mulia, sempurna, seperti pengaruh ilmu akhlak, hadis, fiqih, dan lainnya; (3) perlunya menuntut ilmu karena ilmu itu sendiri; (4) mempelajari ilmu pengetahuan karena ilmu itu dianggap yang terlezat bagi manusia; (5) prinsip pendidikan kejujuran, tekhnik dan industrialisasi untuk mencari kehidupan; dan (6) mempelajari beberapa mata pelajaran adalah alat dan pembuka jalan untuk mempelajari ilmu-ilmu lain. Dengan demikiaan kurikulum pendidikan islam meliputi kepentingan duniawi (poin 3 sampai poin 6) dan kepentingan ukhrowi (spiritual poin 1 dan 2).

Unsur pendidik
Guru berperan sebagai pembimbing murid dalam upaya dan rencana penyelesaian masalah atau “problem solving”. Guuru membantu siswa menentukan persoalan-persoalan yang berarti, melokasikan sumber data yang relefan, menafsirkan dan mengevaluasi ketepatan data, dan merumuskan kesimpulan. Pendidik disini mampu mengenal sampai dimana siswa perlu bimbingan dalam suatu keterampulan khusus agar dapat melanjutkan pesoalannya lebih lanjut. Ini semua memerlukan guru yang sabar, flexibel, memiliki kemamapuan interdisipliner; kreatif dan cerdas. Tidaklah mudah memenuhi peranan guru semacam itu.
Dalam konteks pendidikan islam, guru adalah spiritual father atau bapak rohani bagi murid. Gurulah yang memberi masukan jiwa dengan ilmu, pendidikan akhlak dan membenarkannya, maka menghormati guru berarti penghormatan terhadap anak-anak pula. Oleh karena itu, menjadi pendidik seharusnya memiliki sifat-sifat sebagai berikut. (1) Zuhud, tidak mengutamakan materi dan mengajarkan mencari keridloan Allah SWT.  (2)bersdan  tubuhnya, jauh dari dosa dan kesalahan, bersih jiwa, terhindar dari dosa besar, sifat riya ( mencari nama), dengki permusuhan, perselisihan, dan sifat lainya yang tercela;(3) iklas dalam pekerjaan ; (4) suka pemaaf ; (5) guru merupakan seorang pabak sebelum ia manjadi guru; (60 guru harus mengetahui ta’bi’at murid , dan guru harus menguasai mata pelajaran.

Unsur Peserta didik      
Siswa adalah anak yang dinamis yang secara alami ingin belajar, dan akan belajar apabila mereka tidak merasa putus asa dalam pelajarannya yang diterima dari orang yang berwenang atau dewasa yang memaksakan kehendak dan tujuanya kepada mereka.jadi peserta didik dalam konsep islami harusla aktif dan dinamis dalam berfikir, belajar , meneliti, merenungkan,mencoba, menemukan, mengamalkan, dan menyebarkan aktifitasny. Dan sebagai sarana formal dari tiga komponen atau unsur dalam pendidikan islami  tersebut adalah melibatkan unsur sekolah.

          Unsur Sekolah

Sekolah merupakan lembaga pendidkan dan pengajaran Sekolah mempunyai aturan –aturan khusus, tata tertip tertentu yang di buat tujuahan kehidupan dan mengarahkan kepada sesuatu yang baik.sekolah dianggap sebagai mikrokosmos dari masyarakat secara keseluruhan.sekolah dianggap sebagai meniatiur masyarakat

Unsur Miliu Masyarakat

Miliu merupakan semua faktor yang mempengaruhi proteksi dan kecenderungan anak semisal rumah (keluarga) dimana anak tersebut tinggal, sekolah tempat ia belajar, lapangan tempat ia bermain, dan masyarakat dimana ia hidup bergaul. Berkaitan dengan lingkungan (masyarakat) ini, al-abrasy menyebutkan bahwa lingkungan sosial itu memiliki pengaruh besar bagi perkembangan pendidikan. Pada aspek sekolah masyarakat ini Dewey mengatakan “this school is microchosm of the largest society”, sementara al-abrasy menyebutkan hubungan antara madrasah dengan sekolah ini dengan ungkapannya dimana keduanyaberarti sekolah merupakan masyarakat dalam bentuk kecil.
Salah satu tugas pokok Filsafat Pendidikan Islan adalah memberikan kompas atau arah dan tujuan pendidikan islam. Suatu tujuan kependidikan yang hendak dicapai harus direncanakan ( diprogramkan) dalam apa yang disebut"kurikulum". Antara tujuan dan program harus ada kesesuaian atau kesinambungan. Tujuan yang hendak dicapai harus tergambar didalam program yang tertuang didalam kurikulum, bahkan program itulah yang mencerminkan arah dan tujuan yang di inginkan dalam proses kependidikan.
 Oleh karena itu kurikulum merupakan faktor yang sangat penting dalam proses kependididkan dalam suatu Lembaga Kependidikan Islam. Segala hal yang harus diketahui atau diresapi serta dihayati oleh anak didik harus ditetapkan dalam kurikulum itu. Dalam segala hal yang harus diajarkan oleh pendidik kepada anak didiknya, haus dijabarkan dalam kurikulum. Dengan demikian dalam kurikulum tergambar jelas secara berencana bagamana dan apa saja yang harus terjadi dalam proses belajar mengajar yang dilakukan oleh pendidik dan anak didik. Jadi kurikulum menggambarkan kegiatan belajar mengajar dalam suatu lembaga kependidikan.

C.SUBSTANSI KURIKULUM
Dalam kaitan dengan pengetahuan apa sajakah yang harus diajarkan dan dipelajari di dalam proses pendidikan dalam rangka mencapai tujuan yang ditetapkan, dapat dikemukakan berbagai pandangan dari para filisof sebagai berikut.[5]
1.      Herman H. Horne, berpendapat bahwa substansi apa yang harus dimasukkan didalam kurikulum itu merupakan isi kurikulum, yaitu :
a.       The Ability and needs of children ( kemampuan yang diperoleh dari belajar dan kebutuhan anak didik). Hal ini dapat diketahui dari psikologi.
b.      The Legitimate demand of society( tuntutan yang sah dari masyarakat). Hal ini dapat diketahui dari sosiologi.
c.       The kind of universe in in which we live( keadaan alam semeseta dimana kita hidup). Halmini dapat diketahui dari filsafat.
2.      Al- Ghazali, adalah ahli piker muslim dan ahli tasawuf pada abad ke 5 H (450 H) atau tahun 1058 M. beliau terkenal sebagai ahli piker yang berbeda pendapat dengan kebanyakan ahli piker muslim yang lain (pada masanya), sehingga diberi gelar hujjatul islam. Dalam masalah pendidikan beliau berpendapat bahwa, pendidikan hendaknya ditujukan kearah mendekatkat diri kepada allah dan dari sanalah akan diperoleh kesejahteraan hidup didunia dan kebahagiaan di akherat. Hanya dengan ilmu pengetahuan manusia dapat menjadi sempurna dan dapat mengenal tuhannya.
Beliau membagi ilmu pengetahuan yang terlarang dipelajari atau wajib dipelajari oleh anak didik menjadi tiga kelompok, yaitu:
a.       Ilmu yang tercela, banyak atau sedikit ilmu ini tak ada manfaatnya bagi manusia didunia ataupun di akhirat, misalnya ilmu sihir, nuzum, ilmu perdukunan.
b.      Ilmu yang terpuji, banyak atau sedikit, misalnya ilmu taukhid, ilmu agama. Ilmu ini bila dipelajari akan membawa orang kepada jiwa yang suci bersih dari kerendahan dan keburukan serta dapat mendekatkan diri kepada allah.
c.       Ilmu terpuji pada taraf tertentu, yang tidak boleh didalamni, karena ilmu ini dapat
3.      Ibnu sina, seorang filosof dan ahli kedokteran muslim yang dilahirkan pada tahun 985 M di Afsyanah dekat bukhoroh. Dalam masalah pendidikan beliau menaruh perhatian khusus, meskipun hal ini bukan keahliannya. Pada saat itu kebanyakan ahli piker muslim dan non muslim bila telah digelari sebagai filosof mereka harus mengetahui segala ilimu dan sekurang-kurangnya memahaminya. Ibnu sina dengan masalah pendidikan dalam hubungannya dengan hidup psikologis manusia. Beliau  berpendapat bahwa ilmu pengetahuan itu ada dua jenis, yaitu ilmu nazghori(teoriotis) dan ilmu amali(praktis), yang tergolong dalam ilmu nazghori ialah ilmu alam dan ilmu riyadhi(ilu urai atau matematika). Ilmu illahi atau ketuhanan yaitu ilmu yang mengandung I'tibar tentang wujud kejadian alam dan isinya melalui penganalisisan yang jelas dan jujur sehinga diketahui penciptanya.
Adapun ilmu amali(praktis) adalah ilmu yang membahas teentang tingkah laku manusia dilihat dari segi tingkah laku individualnya, ilmu ini menyangkut ilmu akhlaq. Bila dilihat dari tingkah laku dalam hubungannya dengan orang lain maka ilmu ini termasuk ilmu siasat(politik).
4.      Ibnu khaldun( 732-1332 M) di Tunis, ia pernah menjadi guru yang gemar berkelana di wilayah maghribi sampai ke Andalusia. Ibnu khaldun membagi tiga yaitu ilmu lisan, naqli, aqli. Ilmu lisan itu terdiri dari lughah, nahwu, bayan, sastra arab. Ilmu naqli,u yang mengambil dari kitab suci dan sunah nabi. Ilmu aqli, ilmu yang menunjukkan manusia dengan daya piker termasuk di dalam ilmu ini adalah ilmu mantik dan ilmu logika.
Dari segi kepentingannya untuk para pelajar ibnu khaldun membagi ilmu manjadi:
1.      Ilmu syariah dengan semua jenisnya
2.      Ilmu filsafat seperti ilmu alam dan ketuhanan
3.      Ilmu alat yang membantu ilmu agama seperti ilmu lughah, nahwu, dsb.
4.      Ilmu alat yang membantu ilmu falsafah seperti ilmu mantik(logika).

D. Ciri-Ciri Kurikulum Pendidikan Islam
Sebagaimana dinyatakan oleh Omar Muhammad Al-Toumi al-syaibani sebagai berikut:[6]
1.      Menonjolnya tujuan agama dan akhlaq pada berbagai tujuan-tujuannya, dan kandungan-kandungan, metode-metode, alat-alat dan tehniknya bercorak agama
2.      Meluasnya perhatian dan menyeluruhnya kandungan-kandungannya.
3.      Cirri-ciri keseimbangan yang relative diantara kandungan-kandungan kurikulum dari ilmu-ilmu dan seni atau kemestian-kemestian, pengalaman-pengalaman dan kegiatan ajaran yang bermacam-macam kurikulum dalam pendidikan islam
4.      Kecenderungan pada seni halus, aktivitas pendidikan jasmani, latihan militer, pengetahuan tehnik, latihan kejuruhan, bahasa-bahasa asing
5.      Kurikulum dalam pendidikan islam dengan kesediaan pelajar dan minat, kemampuan, kebutuhan dan perbedaan perseorangan diantara mereka juga berkaitan dengan alam sekitar social budaya dimana kurikulum itu dilaksanakan.
Menurut Nor Wood dkk, kurikulum hendaknya mengandung beberapa unsur :
1.      Upaya pembinaan rasa tanggung jawab dan menghargai akal budi
2.      Menumbuhkan sikap mandiri serta pengembangan kekuatan intelektual yang bebas dan bertanggung jawab
3.      Memberikan pengetahuan tentang realitas yang bakal dialami

Komponen kurikulum paling tidak mencapai empat hal pokok:
1.      Komponen dasar, mencakup konsep dasar, tujuan dalam kurikulum pendidikan, prinsip-prinsip kurikulum yang dianut, pola organisasi kurikulum, criteria keberhasilan, orientasi pendidikan dan system evaluasi.
2.      Kloster komponen pelaksana, mencakup materi pendidikan, system penjenjangan, system penyampaian, proses pelaksanaan dan pemanfaatan lingkungan sebagai sumber belajar
3.      Kloster komponen pelaksana dan pendukung kurikulum mencakup pendidikan, anak didik, bimbingan konseling administrasi pendidikan sarana prasana dan biaya pendidikan.
4.      Kloster komponen usaha pengembangan yakni usaha-usaha pengembangan terhadap ketiga kloster tersebut dengan berbagi komponen yang mencakup didalamnya.
E. Asas Dan Prinsip Kurikulum Pendidikan Islam[7]
Muhammad al-toumi al-syaibani mengemukakan bahwa asas-asas umum menjadi landasan pembentukan kurikulum dalam pendidikan islam adalah
1.      Asas agama
2.      Asas falsafah
3.      Asas psikologis
4.      Asas social
F. Fungsi Kurikulum Pendidikan Islam[8]
1.         Kurikulum sebagai alat untuk mencapai tujuan dan untuk menempuh harapan manusia sesuai dengan tujuan yang dicita-citakan
2.         Kurikulum sebagai pedoman dan program yang harus dilakukan oleh subjek dan objek pendidikan
3.         Kurikulum memiliki fungsi kesinambungan untuk persiapan pada jenjang sekolah berikutnya dan penyiapan tenaga kerjabagi yang tidak melanjutkan.
4.         Kurikulum sebagai standart dalam penialaian kriterian keberhasilan suatu proses pendidikan, atau sebagai program kegiatan yang akan dijalankan pada caturwulan, semester maupun pada tingkat pendidikan tertentu.





BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Prinsipnya bahwa Kurikulum Pendidikan Islam pendidikan islam mengorientasikan pendidikan untuk kebahagiaan dunia dan akhirat, sehingga muncullah konsep insane kamil yaitu sempurna di dunia (berinteraksi dengan makhluk Allah dan berhubungan denganTuhannya/ ALLAH).
• Kurikulum PAI di sekolah umum pada setiap jenjang sebenarnya sudah mencakup seluruh indikator naun dengan terbatasnya waktu maka sangatlah sulit dalam penerapannya dalam pembelajaran sehingga hasilnya pun belum bisa maksimal.
• Arti pengembangan kurikulum adalah proses yang mengaitkan satu komponen kurikulum lainnya untuk menghasilkan kurikulum yang lebih baik.
• Dalam pengembangannya kurikulum PAI sekarang ini sudah menitik beratkan pada :
1. Lebih menitik beratkan pencapaian target (attainmet targets) dari pada penguasaan materi.
2. Lebih mengakomodasikan keragaman kebutuhan dan sumber daya pendidikan yang tersedia.
3. memberikan kebebasan yang lebih luas untuk pelaksana pendidikan di lapangan untuk mengembangkan dan melaksanakan program pembelajaran sesuai dengan kebutuhan.



[1]Abd. Aziz, FilsafatPendidikan Islam SebuahGagasanMembangunPendidikan Islam, Yogyakarta: PenerbitTeras, hal 155
[2]Prof.H.Muzayyin Arifin,M.Ed. Filsafat Pendidikan Islam, Jakarta:Bumi Aksara hal 78
[3]Abd. Aziz, FilsafatPendidikan Islam SebuahGagasanMembangunPendidikan Islam, Yogyakarta: PenerbitTeras, hal 157
[4]Abd.RachmanAssegaff, FilsafatPendidikan Islam ParadigmaBaruPendidikanHadhariBersasisIntegratif-Interkonektif. Jakarta: PT. Raja GrafindoPersada, Hal 108-117
[5]MuzayyinArifin, FilsafatPendidikan Islam, Jakarta: BumiAksara, Hal 78
[6]Ibid 1, hal 158-160
[7]Ibid, hal 160
[8]Ibid, hal164

0 komentar:

Poskan Komentar