Kamis, 10 Mei 2012

Makalah " Ruan Lingkup Sosiologi "


BAB I
A.    PENDAHULUAN
1.      Latar Belakang
Alhamdulillah dengan segala puji Allah SWT kami dari kelompok 5 kelas IPS-c semester dua jurusan pendidikan ilmu pengetahuan sosial fakultas tarbiyah telah menyelesaikan makalah yang berjudul “ Ruang Lingkup Sosiologi” pada mata kuliah pengantar sosiologi dengan dosen pengampu Dr.Zulfi Mubaraq, M.Ag. kelompok kami mengambil beberapa  referensi diantaranya; pengantar ilmu sosial, sosiologi suatu pengantar serta sosiologi agama.
Pentingnya pembahasan topik ini adalah untuk mengetahui bagaimana pentingnya menerapkan ilmu sosiologi diberbagai kalangan masyarakat, yakni dalam kalangan masyarakat desa,kota, menangani masalah medis,industri.
Isi global mengenai makalah ini adalah membahas mengenai ruang lingkup sosiologi, diantaranya sodiologi pedesaan(rural sociology), sosiologi industri (industrial sociology), sosiologis medis (medical sociology), sosiologi perkotaan (urban socilogy), sosiologi wanita( woman sociology ), sosiologi militer (military sociology), sosiologi keluarga(family sociology),, sosiologi agama, sosiologi pendidikan ( Educational of sociology) serta sosiologi seni.
2.      Tujuan pembahasan
Ingin memahami mengenai ruang lungkup sosiologi dibeberapa kalangan masyarakat serta bagaimanakah peranan yang ada didalam ruang lingku sosiologi tersebut.
3.      Rumusan masalah
1.      Apakah sosiologi pedesaan itu?
2.      Mengapa sosiologi medis perlu diterapakan pada masyarakat?
3.      Apa peran penting seorang wanita dalam sosiologi wanita?
4.      Apa saja sistem sosial yang berada didalam sosiologi keluarga?
5.      Apakah  sosiologi agama itu?
BAB II
POKOK PEMBAHASAN
A.    Sosiologi Pedesaan (Rural Sociology)
Jurusan yang pertama kali mengkhususkan sosiologi pedesaan muncul di amerika serikat tahun 1930-an, kemudian muncul beberapa Akademi Land Grant yang dibentuk dalam wilayah kewenangan departemen pertanian amerika serikat untuk meneliti masalah pedesaan dan meneliti ahli sosiologi serta ekstensionis pedesaan untuk kerja sama lebaga-lembaga pemerintah beserta organisasi petani(hightower:1973). Adapun kerangka yang paling sering digunakan untuk mengenali berbagai temuan empiris, adalah gagasan tentang suatu “kontinum pedesaan-perpetaan”, yang berusaha menjeaskan berbagai pendekatan pola sosial dan kultural dengan mengacu kepada tempat masyarakat tersebut disepanjang kontinum yang bergerak dari tipe pemukiman yang paling kota ( the most urban) hingga yang paling desa ( the most plural). Selanjutnya, model penelitiannya terfokus pada maslaah-masalah, seperti penyebaran inovasi teknologi, kesenjangan anatara gaya hidup masyarakat kota dan desa, dan mobilitas pendidikan dan pekerjaan, serta dampak program pembangunan msyarakat. Berbagai dimensi tersebut dikaji dengan menggunkanan  metodologi yang berdasarkan kuesioner, teknik wawancara formal, dan analisis kuantitatif(long,2000:941).
Pada mulanya, terutama sejak tahun 1950-an dan 1960-an, terdapat begiu banyak penelitian sosiologi pedesaan yang dilaksanakan menurut skema konseptual tersebut demikian suksesnya sehingga diadaptasi oleh berbagai negara. Di Eropa masuk aam bentuk Mental Marshall Aid, kemudian penelitian menyebar ke Amerika latin dan Asia (Hofstee,1963). Bahkan pendiri berbagai asosiasi internasional yang mengkhususkan pada sosiologi pedesaan, seperti International rural sociological association (IRSA), menyelengggarakan kongres dunia setiap empat tahun sekali, yang sangat berjasa dalam membangkitkan antusiasme dan sumber daya instuional para anggotanya. [1]

Warga pedesaan suatu masyarakat mempunyai hubungan yang lebih erat dan mendalam ketimbang hubungan mereka dengan warga masyarakat pedesaan lainnya. Sitem kehiduan biasanya berkelompok atas dasar sistem kekeluargaan. Penduduk masyarakat pedesaan pada umumnya hidup dari pertanian. Walaupun terlihat adanya tukang kayu,tukang genteng dan bata, tukang membat gula, bahkan tukang catut ( ingan sistem”ijon”), inti pekerjaan penduduk adalah pertanian. Pekerjaan-pekerjaan disamping pertanian hanya pekerjaan sambilan saja karena bila tiba masa panen atau masa menanam padi, pekerjaan-pekerjaan sambilan tadi segera ditinggalkan. Namun demikian tidaklah berarti setiap orang memiliki tanah.
B.     Sosiologi industri (Industial Sociology)
Kelahiran dibidang ini mendapat inspirasi dari pemikiran-pemikiran Karl Marx,Emile Durkheim, dan Max Weber walaupun secara formal sosiologi industri lahir pada kurun waktu antara perang dunia I dan II, serta secara matang tahun 1960-an dan awal tahun 1970-an(Grint,2000:488). Dari pemikiran Karl Marx, setidaknya teori revolusi proletaritat dari tumbuhnya alienasi serta eksploitasi ekonomi pengaruhnya sangat dirasakan pada periode antara perang dunia I dan II manakala terjadi pengangguran dan krisis ekonomi dunia, walaupun realitanya pengaruh ini kurang dominan[2]. Kemudian gagasan Emile Durkheim yang ditulis dari buku Division Of Labour (1933) memberikan kontribusi yang berarti dalam sosiologi industri terutama pada konsep dasar teorinya tentang norma dan bentuk solidaritas sosial organik dan mekaniknya.
            Sedangkan dari pemikiran Weber, merupakan jantung dalam pembentukan sosiologi industri. Dengan menetang penjelasan materialis Marx mengenai kemunculan kapitalisme, Max Weber (1949) berpandangan bahwa gagasanpun memiliki peranan penting, khususnya yang berkaitan dengan etika kerja protestan. Namun yang paling banyak dibicarakan analisis Max Weber tersebut adalah tentang birokrasi dan signifikansi dari dominannya bentuk-bentuk otoritas legal-formal, yakni otoritas yang legitimasinya berakar pada aturan-aturan dan prosedur formal(Grint,2000:488).



            Dalam perkembangannya, sosiologi indutri sejak tahun 1980an terdapat empat tema baru yang muncul dan daam riset-riset sosiologi industri. [3]
a.       Sosiologi industri yang hanya menekankan gaya tradisional yang patriarkat memberikan peluang munculnya lini baru, yakni feminisme dalam riset. Dalam pendekatan ini, kerja dapat direduksi menjadi pekerjaan orang-orang kerah biru di pabrik-pabrik diperlawankan dan dikontraskan dengan kerja domestik yang tidak bergaji dan meningkatnya jumlah wanita part-timer yang mengerjakan klerikal dan jasa. Lebih jauh gagasan-gagasan bahwa teknologi bersifat netral dan deterministik, diperlihatkan sebagai unsur penting dlam mempertahankan kesinambungan patriarkat (Cockburn,1983; Wajcman1991).
b.      Runtuhnya komunisme di eropa timur, adanya globalisasi industri, pergeseran di Fordisme (keadaan ekonomi seusai perang) menuju post fordisme, perkembangan-perkembangan teknologi pengawasan dan bangkitnya individualisme tanpa ikatan tahun 1980-an, mengantarkan bangkitnya minat pada peran norma dan dominasi diri yang seringkali dikaitkan dengan gagasan foucault dan tokoh pascamodernis lainnya (Reed dan Hughes,1992)
c.       Perkembangan teknologi informasi dan aplikasi-aplikasinya dibidang manufaktur serta perdagangan, telah mendorong bangkitnya kembali minat untuk menerapkan gagasan-gagasan konstruktivis sosial dari sosiologi ilmu pengetahuan serta teknologi ke sosiologi kerja dan industri (Grint dan Woolgar,1994)
d.      Asumsi bahwa pekerjaan dan produksi merupakan kunci identitas sosial tentang argumen-argumen bahwa pola-pola konsumsi merupakan sumber identitas individual (Hall, 1992:114)







C.     Sosiologi medis
Sosiologi medis merupakan dari sosiologi yang kajiannya memfokuskan pada pelestarian ilmu kedokteran, khususnya pada masyarakat modern (Amstrong,2000:643).[4] Bidang ini berkembang pesat sejak tahun 1950-an sampai sekarang. Setidaknya ada dua alasan yang mendorong pesatnya perkembangan dibidang ini.
a.       Berhubungan dengan asumsi-asumsi dan kesadaran bahwa masalah yang terkandung daam perawatan kesehatan masyarakat modern adalah sebagai bagian integral masalah-masalah sosial.
b.      Meningkatnya minat terhadap pengobatan dalam aspek-aspek sosia dari kondisi sakit (illness), terutama berkaitan dengan psikiatri(berhubungan dengan penyakit jiwa ), pediatri(ksehatan anak), praktik umum (pengobatan keluarga), geriatrik ( perawatan usia lanjut), dan pengbatan komunitas (Amstrong, 2000:643-644).

Beberapa tulisan yang menghiasi keahiran sosiologi medis tahun 1950-an adalah Journal Of Health And Human Behaviour  yang kemudian diubah pada tahun 1960-an menjadi Journal Of Health and Social Behaviour. Pada awal kelahirannya yang dominan adalah perspektif medis,psikologi dan psikologi sosial. dalam perspektif medis , terutama pada epidemiologi sosial yang berusaha mengidentifikasi peran dari faktor-faktor sosial terhadap berjangkitnya penyakit menular yang dilakukan oleh para ahli medis dan sosiologi. Hasil kajian awal menunjukkan bahwa terdapat pengaruh dari struktur sosial (kelas sosial) terhadap etiologi dari penyakit psikiatris maupun organis ( amstrong , 2000:644).
Kemudian Freidson menulis buku Profesionof Medicine(1970) yang berisikan tawaran suatu sintesis dari berbagai kajian awal mengenai profesi, penkasifikasian, organisasi medis, persepsi pasien dan sebagainya. Khazanah baru ini merupakan teks penting dalam menetapkan identitas formal sosiologi medis ke arah baru. Sebab pada dasarnya kondisi sakit (illness) maupun penyakit (disease) merupakan konstruksi realita sosial, refleksi dari organisasi sosial, kepentingan professional, hubungan kekuasaan dan sebagainya.


Dalam hal ini prestasi freidson (1970) adalah membebaskan sosiologi medis dari batasan-batasan yang berdasarkan kategori medis, serta mengungkapkan pengalaman pasien dan pengetahuan medis hingga analisis yang lebih mendalam dan sistematis.
      Dalam perkembangan selanjutnya, khususnya tahun 1990-an minat terhadap studi detail kehidupan sosial pun dilibatkan yang meneliti ekspresi dalam pngalaman sakit pasien. Pandangan pasien mengenai kondisi sakit ditelaah sebatas sebagai bahan tambahan dari perilaku sakit berdasarkan posisi pasien itu sendiri. Konsekuensi logis penerimaan pendapat tersebut yang sama bermanfaatnya dengan bidang medis tersebut dapat menjadi objek penting dalam sosiologi. Ini berarti pengetahuan medis dapat dieksplorasi, tidak hanya sebagai suatu bentuk kebenaran pengetahuan tertinggi, tetpi sebagai suatu sarana menuju masyarakat yang dapat dikendalikan,dialenasi,dan didepolitisasi dalam penyelenggaraan kehidupan mereka. Dimana pengetahuan dan praktik medis memiliki peran penting dalam mnciptakan tubuh yang dapat dianalisis dan dikalkulasi masyarakat modern.
 Namun demikian, tidak berarti ssiologi media dipekerjakan oleh institusi-instusi medis atau pada tugas-tugas mengandung nsur medis bahkan upaya memperbaiki (ameliorate) pasien yang menderita (Amstrong,2000:646)

D.    Sosiologi perkotaan (urban sociology)
Sosiologi urban atau perkotaan dan studi sosiologi yang menggunakan berbagai statistik diantara populasi dalam kota-kota besar. Kajiannya terutama dipusatkan pada studi wilayah perkotaaan dimana zona industri, perdagangan dan tempat tinggal terpusat. [5]Praktik ini menerangkan pengaruh penggunaan tata ruang dan lingkungan kota besar dalam beberapa lokasi atau daerah mikin sebagai jawaban diatas beberapa kultur , etnis dan bahasa yang berbeda, suatu mutu hidup yang rendah, terutama bahwa semua fenomena-fenomena  sosial ke arah disorganisasi sosial. walapun t idak dipungkiri justru dikota terdapat banyak kelompok-kelompok sosial masyarakat elite, menengah dan profesional.



Sosiologi perkotaan baru dimulai di Eropa, perintisannya sejak tahun 1920-an dan 1930-an walaupun resminya sejak tahun 1970-an yang kemudian menyebar ke berbagai wilayah khususnya Amerika Serikat. Hal itupun mempengaruhi studi masyaraka lainnya samai ke kota-kota besar di Jepang pada tahun 1970-an. Selama dua puluh tahun sejak pengenalannya di Barat, dapat dibagi menjadi tiga tahapan :
a.       Periode dari 1977-1985, ketika sosiologi urban prancis, terutama sekali teori manuael castell pernyataannya sangat berpengaruh.
b.      Dari 1986-1992 memusatkan pada teori pergerakan sosial dan konsep global di kota besar dalam satu konteks pembaruan, terutama dikota-kota jepang.
c.        Dari 1992 sampai sekarang, ditandai oleh suatu perubahan untuk sosiologi perkotaan dalam suatu teori ruang kemasyarakatan dibawah globalisasi yang telah begitu besar mempengaruhi pekerjaan David Harvey (Kazutaka Hashimoto,2002). Beberapa tema yang relevan dalam kajian sosiologi urban tersebut,diantaranya populasi,geopolitik, ekonomi dan lain-lain.

Sosiologi perkotaan ini lebih digunakan dalam menangani masalah kehidupan masyarakat yang berada di kota. Contohnya dalam penggunaan kebutuhan masyarakat kota ini cenderung lebih boros. Kehidupan seperti inilah yang perlu diatur.[6]
Mazhab chicago adalah suatu mazhab yang berpengaruh besar dalam studi sosiologi perkotaan ini. Setelah mempelajari kota-kota besar pada awal abad ke-20 dan 21. Mazhab chicago ini masih memiliki peranan penting. Banyak dari penemuan mereka yang berharga telah menempatkan pengaruh mazhab tersebut sehingga masih dominan. Bahkan belakangan ini telah berkembang sosiologi perkotaan baru dibawah pengaruh tulisan mark Gottdiener dan Ray   (2006) yang menyajikan teks terobosan mereka dalam suatu edisi baru ketiga, sekarang dengan sepenuhnya meninjau kembali dengan mengefektifkan dengan memberikan bagi para mahasiswa suatu kajian yang menandaskan secara terintegrasi pada topik-topik aktual.



 Buku tersebut diorganisir secara terpadu dengan perspektif paradigma sociouspatial yang mempertimbangkan peran yang dimiliki oleh faktor-faktor sosial, seperti ras,kelas,jenis kelamin,gaya hidup, ekonomi, kultur, dan politik pada pengembangan daerah metropolitan. Studi kasus baru, dimana seluruh teks menghadirkan pekerjaan yang paling terbaru didalam bidang ini, seperti halnya terminologi kunci dan diskusi mempertanyakan masing-masing perubahan terbaru. Perubahan baru it meliputi kajian globalisme,suburbaniasi,daerah yang muticentered sebagai format baru yang berkenaan dengan perkembangan kota-kota baru , urbanisme yang baru, dan perspektif kritis pada perencanaan dan kebijakan.

E.     Sosiologi wanita
Lahir dan berkembangnya sosiologi wanita, dimana sejarah perintisannya sejalan dengan perkembangan gerakan feminsme yang dipelopori oleh Mary Wollstonecraft dalam bukunya A Vindication of The Right Of Women (1779), kendati akar-akar historisnya dapat dilacak sejak lahirnya sosiologi sebagai disiplin akademik. Sosiologi wanita merupakan suatu perspektif menyeluruh tentang keanekaragaman pengalaman yang terstruktur bagi kaum wanita, dengan mendefinisikan sosiologi wanita dalam pola-pola ketidakadilan yang terstruktur, khususnya kerangka stratifikasi gender. Disamping itu secara eksplisit adanya pengintegrasian penelitian yang progresif mengenai peran gender dari disiplin sosiologi.
 Bidang kajian bergerak ke arah suatu penilaian sistematika tentang seluruh wanita, termasuk wanita kulit berwarna, wanita kelas pekerja, wanita lanjut usia, dan sebagainya. Singkatnya yang dilakukan oleh kaum wanita ialah mengembangkan suatu sosiologi oleh dan untuk kaum wanita(Ollenburger dan Moore,996:v). [7]

Dilihat dari perspektif pendorong teori sosiologi wanita tersebut, terdiri atas tiga kelompok kontributor pemikiran sosiologi tama yang terpilih.[8]
1.      Kelompok teoretisi positivis atau fungsionalis, menegaskan bahwa tatanan alamiah dominasi laki-laki sebagai suatu perbedaan terhadap argumen-argumen mengenai hak-hak kaum wanita. August Comte percaya bahwa wanita secara konstitusional bersifat inferior terhadap laki-laki karena kedewasaan mereka berakhir pada masa kanak-kanak. Oleh karena itu , Comte percaya bahwa wanita menjadi subordinat laki-laki manakala ia menikah.
2.      Kelompok para teoritis konflik, melukiskan sistem-sistem penindasan yang secara sitematis membatasi kaum wanita. Karl marx melihat masyarakat secara konstant berubah komposisinya, kekuatan antitesis menyebabkan perubahan sosial melalui ketegangan dan perjuangan antarkelas yang bertentangan. Karena itu kemajuan sosial diisi oleh perjuangan dan upaya keras yang membuat knflik sosial menjadi inti dari proses sejarah. Disinilah mark menulis mengenai eksploitasi tenaga kerja yang menimbulkan alienasi dan pembentukan kelas yang saling berlawanan. Dalam tulisan Marx dan Engels (1970) mereka menulis tentang wanita sebagai alat produksi.
 Akan tetapi, komunitas anda akan memasukkan komunitas wanita dan mengutuk semua borjis yang secara serempak. Seorang borjuis melihat istrinya sebagai alat produksi belaka. Ia medengar bahwa alat-alat produksi biasanya dieksploitasi dan tentu saja tidak ada kesimpulan lain, apa yang biasa terjadi pada kebanyakan alat produksi, menimpa pula pada kaum wanita.
3.      Kelompok alternatif, yaitu kelompok aktivis karya sosial dan interaksionis. Kelmpok ini dipimpin oleh Jane Addams yang bermukim dipemukiman kumuh Chicago West Side dari taun 1800-andan awal 1900-an (Addams,1910). Yang membuka Hull house pada tahun 1889, mendahulukan pembukaan universitas Chicago tahun 1982. Model pemukiman tersebut adalah egalitarian,dominasi kewanitaan, dan pragmatis. Jaringan kerja para aktivis sosial dan akademikus yang akan sering mengunjungi Hull house, termasuk John Dewey dan George Herbert Mead banyak memberikan kontribusi pada perkembangan pragmatisme chicago yang menggabungkan ilmu pengetahuan objektif pengamatan dengan isu-isu etik dan moral untuk menghsilkan suatu masyarakat yang adil dan bebas (Deegan,1988:6)

F.      Sosiologi militer ( Military Sociology )
Bidang kajian ini menyoroti angkatan bersenjata sebagai suatu organisasi bertipe khusus dengan fungsi sosial spesifik ( Bredow,2000:664). Fungsi-fungsi tersebut bertolak dari suatu tujuan organisasi keamanan dan sarana-sarananya, kekuatan, serta kekerasan. Sebenarnya, masalah-masalah seperti itu sudah lama didiskusikan oleh para sosiolog. Seperti August Comte maupn Herbert Spencer. Akan tetapi secara formal studi sosiologi militer tersebut itu baru dimulai selama perang dunia II. Kajian yang paling awal dilakukan Research branch of information and education of the armed forces antara tahun 1942-1945, yang kemudian dipubikasikan (Stouffer,1949).
 Sosiologi militer tersebut terus berkembang pesat khususnya di Amerika Serikat, yang menurut Bredow (2000:665), terdapat lima bidang kajian sosiologi militer.[9]
1.      Problem organisasi internal yang menganalisis proses-proses dalam kelompok kecil dan ritual militer dengan tujuan mengidentifikasi problem disiplin dan motivasi, serta menguraikan cara-cara subkultur militer dibentuk.
2.      Program organisasional internal dalam pertempuran, didalam hal ini dianalisis termasuk seleksi para petinggi militer, kepangkatan,dan evaluasi motivasi pertempuran.
3.      Angkatan bersenjata dan masyarakat yang mengkaji tentang citra profesi yang berkaitan dengan dampak perubahasan sosial dan teknologi, profil rekrutmen angkatan bersenjata, problem pelatihan dan pendidikan tentang serta peran wanita dalam angkatan bersenjata.
4.      Militer dan politik. Dalam hal ini, dianalisis ada suatu perbandingan bahwa pada demokrasi barat riset militer, terfokus pada kontrol politik terhadap jaringan militer, kepentingan ekonomi, \dan administrasi lainnya. Namun bagi negara-negara berkembang, memfokuskan berbagai sebab dan konsekuensi dari kudeta militer yang diperankannya dengan membawa atribut-atribut pembangunan dan Practiorisme ( bentuk yang biasanya diterapkan oleh militerisme negara berkembang).

G.    Sosiologi keluarga ( Family Sociology)
Mempelajari pembentukan dan perkembangan keluarga, bentuk keluarga, fungsi dan struktur keluarga, arah perkembangan keluarga pada masa mendatang, permasalahan yang dihadapi keluarga serta penyelesaiannya, masalah penyimpangan hubungan dengan sosialisasi, disorganisasi keluarga dan masalah keluarga berencana.[10] Mencakup hubungan keluarga dengan sistem sosial lainnya,seperti sistem pendidikan,ekonomi,pemerintah,hubungan keluarga dengan sistem nilai dan organisasi lainnya serta implikasinya terhadap anggota keluarga.. Pendekatan sosiologis dalam melihat keluarga, peranan, interaksi dan fungsi keluarga dalam era modernisasi maupun pembangunan (Goode,2002:37)

H.    Sosiologi Agama
Sosiologi agama merupakan studi sosiologis yang mempelajari studi ilmu budaya secara empiris, profan dan positif yang menuju kepada praktik, struktur sosial, latar belakang historis, pengembangan, tema universal, dan peran agama dalam masyarakat (goddijin,1966:36).[11] Para ahli sosiologi agama mencoba untuk menjelaskan efek masyarakat itu pada agama maupun efek agama terhadap masyarakat. Dengan kata lain, terdapat hubungan yang bersifat dialektis antara keduanya, dalam kaitannya dengan agama ini terutama tertuju pada studi praktis,struktur sosial,latar beakang historis, perkembangan,tema universal, dan peram agama dalam masyarakat( Wikipedia:2002). Dari definisi diatas, dapat dikemukakan bahwa sosiologi umum yang bertujuan untuk mencari keterangan ilmiah tentang masyarakat agama khususnya.
H.Goddijn-W.Goddjin, sosiologi agama adalah bagian dari sosiologi umum yang mempelajari suatu ilmu budaya empiris, profan, dan positif yang menuju kepada pengetahuan umum, yang jernih dan pasti dari struktur,fungsi-fungsi dan perubahan-perubahan kelompok keagamaan dan gejala-gejala kekelompokan keagamaan. Dengan definisi tersebut sudah cukup memberikan gambaran kepada kita bahwa sosiologi agama ada hakekatnya adalah cabang dari sosiologi umum yang mempelajarai masyarakat agama (religious society) secara sosiologis untuk mencapai keterangan-keterangan imiah dan pasti demi masyarakat untuk masyarakat agama itu sendiri dan umat atau masyarakat pada umumnya. [12]
Ditinjau dari sejarahnya, perintisan sosiologi agama sebenarnya sejak lama dan hampir seusia dengan sosiologi itu sendiri. Pada abad ke-19 sejumlah sarjana barat terkenal (1832-1917) , Friedrich H.Muller (1823-1917), dan james Frazer(1854-1941), telah banyak enulis tentang aga-aga pada masyaakat primitif. Akan tetapi, pengkajian masalah agama secara ilmiah dan sistematis baru dilakukan sekitar tahun 1900-an hingga pertengahan abad ke-20.
 Mulai saat itu muncullah buku-buku sosiologi agama yang dikenal dengan periode agama klasik yang dipelopori oleh Emile Durkheim (1858-1917) seorang erintis sosiologi dari Prancis dalam bukunya The elementary form of religius life, dan Max Weber (1864-1920) seorang sosiolog dari Jerman dalam karyanya the sociology of religion  keduanya dikenal sebagai pendiri sosiologi agama .Dalam perkembangannya, ssiologi memiliki empat mazhab yakni klasik,positivisme, teori konflik dan fungsionalisme (Hendropuspito,193:24).



Jika mazhab klasik memiliki karakteristik yang lebih bercorak sosiologi dasar dari pada sosiologi agama, dengan pengecualian Durkheim dan Weber. Mazhab positivisme, memiliki karakteristik dimana ia menyibukkan dirinya dengan kuantifikasi dari dimensi masyarakat yang kualitatif, dengan kata lain memberikan kesimpulan-kesimpulan yang netral tanpa diwarnai pertimbangan teologis mauun filsafatis. Berbeda dengan mazhab teori konflik, masyarakat yang sehat brcirikan masyarakat yang hidup dalam situasi konfliktual. Sebaliknya masyarakat yang dalam keadaan equilibrium dianggapnya sebagai masyarakat tertidur dan stagnan dalam kemajuan (Hendropuspito,1983:25). Disisi lain aliran ini pun sering disebut sosiologi agama yang kritis,sedangkan mazhab fungsionalis, memiliki karakteristik yang berasumsi bahwa masyarakat itu merupakan suatu perimbangan, setiap kelompok memberikan kontribusinya yang khas dalam membentuk sistem perimbangan secara keseluruhan (hendropuspito,1983:26).
I.       Sosiologi pendidikan (Educational Sociology yang kemudian menjadi Sociology Of Education)
Merupakan bidang kajian sosiologi yang penitisannya selalu dikaitkan dengan sosiolog pendidikan bernama Lester Frank Ward pada tahun 1883, yang menegaskan bahwa untuk memperbaiki masyarakat diperlukan pendidikan (Ballantine,1983:11). Selanjutnya, Ward menegaskan bahwa perbedaan kelas yang terjadi dalam masyarakat bersumber kepada  perbedaan pemilikan kesempatan, terutama kesempatan dalam memperoleh pendidikan tersebut mengarah monopoli pemilikan sumber-sumber sosial maupun keadilan.[13]
 Dengan berasumsi bahwa pada dasarnya manusia memiliki kapasitas belajar yang sama, selanjutnya Ward mendesak kpada pemerintah Amerika untuk mengadakan wajib belajar. Baru pada abad ke-20, muncul semangat yang kuat untuk mendirikan sebuah cabang sosiolgi yang dinamakan educational sociology (Brookover dalam pavalko,1976:6). Perkembangannya ternyata bidang baru tersebut sangat pesat, hal ini terlihat pada tahn 1914, khususnya di Amerika Serikat teah 14

universitas yang mengadakan program perkuliahan bidang tersebut, dimana bidang educational sociology mengandalkan pada problem solving sosial sebagai metodenya (Adiwikarta,1988:2). Timbul ketidakpuasan atas educational sociology tersebut dari sosiolog lainnya, terutama Robert Angell terhadap nama subdisiplin itu, maupun terhadap metodenya sehingga tahun 1928, muncul istilah baru, yaitu socioloy of education. Bagi Angell, sociology of education harus berbeda dengan educational sociology, ia tidak perlu menjanjikan jawaban sosiologis untuk mengatasi permasalahan sosial yang dihadapi dunia pendidikan. Bidang ini cukup bertugas untuk melakukan berbagai riset dan menjadikan instuisi pendidikan sebagai sumber data ilmiah. Dengan demikian yang menjadi pusat perhatian dalam sociology of education adalah penelitian dan hasilnya, bukan dikusi tentang penanggulangan masalah pendidikan. Ternyata perkembangan sociology of education tersebut jauh lebih pesat dan mendapat dukungan besar dari Inggris,Prancis, dan Jerman. Menurut Brookover, bidang-bidang kajian materi sociology of education  tersebut mencakup (a)hubungan sistem pendidikan dengan sistem sosial lain;(b)hubungan sekolah dengan komunitas sekitarnya;(c) hubungan antar manusia dalam sistem pendidikan;(d)pengaruh sekolah terhadap perilaku anak didik (Pavalko,1976:14-16).
J.       Sosiologi seni
Istilah sosiologi seni ( sociology of art ) digunakan dari sosiologi berbagai seni (sociolgy of arts) atau sosiologi seni dan literatur ( sociology of art and literature). Sedangkan sosiologi visual relatif jarang dikembangkan ddibandingkan sosiologi literature,drama maupun film. Implikasinya, sifat generik dari bidang kajian ini mau tidak mau menimbulkan kesulitan dalam analisisnya karena tidak selalu terdapat hubungan linear antara musik dan novel dengan konteks atau politiknya (Wolff,2000:41). Namun demikian, sosiologi seni dapat dikatakan sebagai wilayah kajian yang cair karena didalamnya tidak ada suatu model analisis atau teori yang dominan.[14]

Beberapa pendekatan yang banyak digunakan di Eropa dan Amerika memang ada perbedaan. Sebagai contoh di Inggris dan Eropa lainnya, pendekatan marxis dan non-marxis masih ada pengaruhnya hingga tahun 1970-an. Sebaliknya sosiologi seni di Amerika Serikat yang seringkali dinamakan sebagai pendekatan  produksi-budaya (Kamerman dan Martorella, 1983;Becker,1982). Dalam tradisi marxis, para ahli seni bergerak dari metafora sederhana, yakni baris dan suprastruktur yang mengandung bahaya sikap reduksionis ekonomiterhadap budaya, dan beranjak melihat literatur serta seni semata-mata sebagai pncerminan faktor-faktor kelas atau ekonomi. Karena itu karya-karya pengarang Antonio Gramsci,Theodor Adorno,dan Louis Althusser menjadi penting dalam penyempurnaan model yang bertumpu pada level-level kelompok sosial antara kesadaran individual dan pengalaman spesifik tekstual(Wolff,2000:41-42).
Hal itu berbeda dengan pendekatan sosiologi seni produksi-budaya yang sering mendapat kritik karena dianggap mengabaikan produk budaya itu sendiri. Pendekatan produksi-budaya (production of culture) memfokuskan pada masalah hubungan  sosial dimana karya seni itu diproduksi.[15] Para ahli sosiologi seni melihat peranan para “penjaga gawang”, seperti para penerbit kritikus, pemilik galeri dalam memperantarai seniman dan masyarakat,hubungan sosial dan proses pengambilan keputusan disuatu lembaga akademi seni maupun perusahaan opera, serta mengenai hubungan antara produk-produk budaya tertentu, seperti fotografi dimana jarya itu dibuat (Rosenblum,1978;Adlrer,1979). Kebanyakan yang menjadi fokus kajiannya di banyak negara, kecuali di Inggris (studi literatur), yakni pada seni pertunjukkan yang menyajikan kompleksitas interaksi sosial yang dianalisis.


BAB III
C.ANALISIS DAN DISKUSI


















BAB IV
D. KESIMPULAN
1.  sosiologi pedesaan adalah suatu bidang ilmu yang mengenali berbagai temuan               empiris, adalah gagasan tentang suatu “kontinum pedesaan-perpetaan”, yang berusaha menjeaskan berbagai pendekatan pola sosial dan kultural dengan mengacu kepada tempat masyarakat tersebut disepanjang kontinum yang bergerak dari tipe pemukman yang paling kota ( the most urban) hingga yang paling desa ( the most plural).
2. karena ada dua alasan yang mendorong pesatnya perkembangan dibidang ini yakni :
a.       Berhubungan dengan asumsi-asumsi dan kesadaran bahwa masalah yang terkandung daam perawatan kesehatan masyarakat modern adalah sebagai bagian integral masalah-masalah sosial.
b.      Meningkatnya minat terhadap pengobatan dalam aspek-aspek sosia dari kondisi sakit (illness), terutama berkaitan dengan psikiatri(berhubungan dengan penyakit jiwa ), pediatri(ksehatan anak), praktik umum (pengobatan keluarga), geriatrik ( perawatan usia lanjut), dan pengbatan komunitas (Amstrong, 2000:643-644).
3.wanita sebagai alat produksi.
4.    sistem sosial seperti sistem pendidikan,ekonomi,pemerintah,hubungan keluarga dengan sistem nilai dan organisasi lainnya serta implikasinya terhadap anggota keluarga.
5.   studi sosiologis yang mempelajari studi ilmu budaya secara empiris, profan dan positif yang menuju kepada praktik, struktur sosial, latar belakang historis, pengembangan, tema universal, dan peran agama dalam masyarakat (goddijin,1966:36)






[1] Dr.H.Dadang Supardan,M.Pd, engantar Ilmu sosial hal 79
[2] Ibid hal 80
[3] Ibid hal 81
[4] Dr.H.Dadang Supardan,Mpd Pengantar ilmu sosial hal 81
[5] Ibid hal 83
[6] Serjono Soekamto, sosiologi sebagai engantar hal 155
[7] Dr.H.Dadang Sparlan,S.Pd,engantar Ilmu sosial hal 84
[8] Ibid hal 85-86
[9] Ibid hal 86
[10] Ibid hal 87
[11] Ibid hal 87
[12] Ishomuddin, pengantar sosiologi agama hal 22
[13] Dr.H.Dadang Supardan, pengantar ilmu sosial hal 89
[14] Ibid hal 90
[15] Ibid hal 90

0 komentar:

Poskan Komentar