Kamis, 10 Mei 2012

TEORI KEPEMIMPINAN



A.    PENDAHULUAN
1.      Latar belakang
Alhamdulilah kami dari kelompok XIV telah menyelesaikan
makalah yang berjudul “ teori kepemimpinan ” pada mata kuliah teori sosiologi program jurusan pendidikan ilmu pengetahuan sosial fakultas tarbiyah dengan dosen pengampu   Dr. H. Zulfi Mubaroq, M.Ag. Kelompok kami mengambil bahan dari berbagai referensi buku ilmu budaya dasar karangan Drs. Joko Widagdho
            pentingnya pembahasan topik ini adalah untuk mengetahui peran suatu kepemimpinan yang diterapkan dilingkungan masyarakat maupun dilingkungan organisasi
            isi global mengenai makalah ini adalah pengertian teori kepemimpinan, konstruksi teori (yang meliputi isi dari teori tersebut serta beberapa pendapat tokoh mengenai teori kepemimpinan tersebut, serta riwayat hidup penemu teori kepemimpinan itu.

2.      Tujuan pembahasan
Ingin memahami mengenai teori kepemimpinan serta peranannya didalam lingkungan masyarakat.
3.      Rumusan masalah
a.       Apakah pengertian teori kepemimpinan itu?
b.      Bagaimanakah konstruksi teori mengenai teori kepemimpinan tersebut?
c.       Bagaimana Riwayat hidup penemu teori tersebut ?



B.     POKOK PEMBAHASAN
1.      Pengertian Teori Kepemimpinan
Secara etimologi :
Teori : pendapat yang dikemukakan sebagai keterangan mengenai suatu peristiwa atau kejadian.
Pemimpin : orang yang memimpin.
Kepemimpinan : perihal memimpin, contoh : mahasiswa tetap mendukung cara kepemimpinan nasional presiden.

Secara terminologis :
Kepemimpinan merupakan suatu proses dengan berbagai cara mempengaruhi orang atau sekelompok orang untuk mencapai suatu tujuan bersama. [1]
2.      Konstruksi Teori
a.       Latar belakang teori
Pemimpin dan kepemimpinan merupakan suatu kesatuan kata yang tidak dapat dipisahkan structural maupun fungsional.[2] Kepemimpinan tampaklah lebih merupakan konsep yang berdasarkan pengalaman. Arti kata-kata ketua atau raja yang dapat ditemukan dalam beberapa bahasa hanyalah untuk menunjukkan adanya pembedaan antara pemerintah dari anggota masyarakat lainnya. Pemikiran yang mendalam tentang kepemimpinan lebih banyak terdapat dikalangan Negara-negara Anglo-Saxon. The Oxport English Dictionary (1933) mencatat bahwa kata pemimpin dalam bahasa inggris muncul pada tahun 1300. Bagaimanapun kata kepemimpinan belum muncul sebelum tahun 1800.
Banyaknya konsep definisi kepemimpinan yang berbeda hampir sebanyak jumlah orang yang telah berusaha untuk mendefinisikannya. Sekalipun demikian terdapat banyak kesamaan diantara definisi-definisi tersebut memungkinkan adanya skema klasifikasi secara kasar.[3]
b.      Macam-macam teori-teori kepemimpinan
Macam-macam teori kepemimpinan dijelaskan ada 4 macam sebagaimana berikut ini :[4]
1)      .Teori orang terkemuka
Kelompok teori ini disusun berdasarkan cara induktif dengan mempelajari sifat-sifat yang menonjol dari pimpinan atas keberhasilan tugas yang dijalankan, terutama kemampuan untuk memimpin. Kualitas-kualitas apa yang dimiliki oleh para pemimpin, dan kemudian dikaitkan dengan latar belakang asal usulnya sebagai factor potensi.
            Dalam kelompok teori ini diasumsikan bahwa pemimpin-pemimpin yang berhasil memainkan peranan dan sifat-sifat unik dan kualitasnya adalah superior. Sifat-sifat inilah kemudian dikelompokkan sebagai kekhasan dari cirri-ciri kepemimpinan. Kelompok teori ini akan menjurus pada teori traits of leadership dan traits
2)      Teori Enviromental
Teori ini berpendapat bahwa kepemimpinan didapatkan karena factor lingkungan social yang merupakan tantangan untuk dapat diatasi dan diselesaikan. Disamping itu seorang pemimpin bergantung pada zaman dimana ia hidup untuk menyelesaikan masalah-masalah yang sesuai dengan situasi dewasa ini.
3)      Teori situasi personal
Teori ini beranggapan adanya suatu fielddynamic of leadership. Teori ini selanjutnya menerangkan bahwa interaksi antara pemimpin dan situasinya membentuk tipe-tipe kepemimpinan tertentu. Timbullah suatu anggapan bahwa tiap situasi dapat membentuk seseorang untuk menjadi seorang pemimpin.
4)      Teori interaksi harapan
Dalam teori ini lebih menitikberatkan pada dinamik interaksi antara pemimpin dengan rakyatnya dan melalui interaksi ini dapat dijaring harapan-harapan dan keinginan-keinginan dari masyarakatnya. Pada umumnya pemimpin hanyaa bekerja dibelakang mejanya dan memaksakan keinginannya sehingga kurang memperhatikan harapan-harapan dan keinginan dari masyarakatnya secara mendasar.
5)      Teori humanistik
Teori humanistik menyatakan bahwa fungsi kepemimpinan adalah mengatur kebebasan individu untuk dapat merealisasi motivasi dari rakyatnya agar dapat bersama-sama mencapai tujuannya. Oleh karena itu yang lebih penting dalam teori ini adalah unsure organisasi yang baik yang dapat memperhatikan factor-faktor kebutuhan rakyatnya.
6)      Teori penukaran
Pada teori ini diungkapkan bahwa interaksi social ini akan menghasilkan bentuk perubahan dimana para pengikutnya akan berpartisipasi aktif.
Model kepemimpinan yang berkembang dalam kehidupan kebangsaan dewasa ini telah membawa kepada kompleksitas permasalahan mengenai kepemimpinan itu sendiri karena banyak orang yang telah menjadi pemipin yang tidak dilembagakan, sumber dari kepemimpinan semacam ini bukan melalui lembaga formal, melainkan karena kualitas individu.[5]



Selain enam teori tersebut masih ada beberapa teori sebagai berikut :[6]
1)      Teori Great Man dan Teori Bang
Teori yang usianya sudah cukup tua ini menyatakan kepemimpinan merupakan bakat atau bawaan sejak seseorang lahir dari kedua orang tuanya. Bennis dan Nanus (1990, p. 3) menjelaskan bahwa teori Great Man berasumsi pemimpin di lahirkan bukan di ciptakan. Teori ini melihat bahwa kekuasaan berada pada sejumlah orang tertentu, yang melalui proses pewarisan memiliki kemampuan memimpin atau karena keberuntungan mereka memiliki bakat untuk menempati posisi sebagai pemimpin.
Bennis dan Nanus (1993, p. 3) juga menyatakan bahwa dalam perkembangan berikutnya, teori kepemimpinan berdasarkan bakat cenderung di tolak dan lahirlah teori Big Bang. Teori kepemimpinan yang baru di zamannya itu menyatakan bahwa sesuatu peristiwa besar di ciptakan atau dapat membuat seseorang menjadi pemimpin. Teori ini mengintegrasikan antara situasi dan anggota organisasi sebagai jalan yang dapat mengantarkan seseorang menjadi pemimpin. Situasi yang di maksud adalah kejadian besar seperti revolusi, kekacauan, pemberontakan, reformasi dll.
2)      Teori Sifat atau Karakteristik Kepribadian
Teori ini bertitik tolak dari pemikiran bahwa keberhasialan eorang pemimpin di tentukan oleh sifat atau karakteristik kepribadiaan yang di miliki baik secara fisik maupun psikologis. Dengan teori ini berasumsi bahwa keefektifan seorang pemimpin di tentukan oleh sifat, perinagi atau ciri-ciri kepribadian tertentu yang tidak saja bersumber dari bakat tetapi juga yang di peroleh dari pengalaman dan hasil belajar.
Dari berbagai pendapat mengenai karakteristik pemimpin dalam mengefektikkan organisasi melalui anggotanya, telah di lakukan penelitian yang menyimpulkan empat karakterisktik utama. Keempat karakteristik itu adalah:
a)      Intelegensi (kecerdasan)
b)      Kematangan dan keluasan pandangan sosial.
c)      Memiliki motivasi dan keinginan berprestasi.
d)     Memiliki kemampuan hubungan manusiawi.

3)      Teori Perilaku
yang di maksud perilaku adalah gaya kepemimpinan dalam mengimplementasikan fungsi kepemimpinan, yang menurut teori ini sangat besar pengaruhnya dan bersifat sangat menentukan dalam mengefektifkan organisasi untuk mencapai tujuannya.[7] Sehubungan dengan itu apbila perilaku kepemimpinan di tampilkan berupa tindakan tegas, keras, sepihak, tertutup pada kritik dan saran, mengancam setiap pelanggaran atau kesalahan anggota organisasi dengan sanksi yang berat dll, perilaku dalam memberikan pengaruh di lakukan secara simpatik, pendapat, saran dan kritik, mengajak, memperhatikan prasaan, membina hubungan yang serasi dll, maka di sebut gaya kepemimpinan demokratis.
4)      Teori Kontingensi atau Teori Situasional
Dari teori kepemimpinan yang telah di uraikan terdahulu ternyata semuanya berpandangan bahwa untuk mengelola organisasi dapat di lakukan dengan gaya organisasi atau perilaku tunggal dalam segala situasi. [8]Oleh karena itulah timbul respon terhadap teori kepemimpinan tersebut. Dengan kata lain tidak mungkin setiap organisasi hanya di pimpin dengan gaya kepemimpinan tunggal untuk segala situasi terutama organisasi terus berkembang menjadi semakin besar atau jumlah anggotanya semakin banyak.
Respon yang timbul berfokus pada pendapat bahwa dalam menghadapi situasi yang berbeda di perlukan gaya kepemimpinan yang berbeda pula. Di samping itu karena gaya kepemimpinan harus sesuai dengan situasi yang di hadapu seorang pemimpin maka teoti ini di sebut juga teori pendekatan atau situasional.
C.    Tipe dan Gaya Kepemimpinan
Tipe kepemimpinan dapat diartikan sebagai bentuk kepemimpinan, yang di dalamnya diimplementasikan satu atau lebih perilaku atau gaya kepemimpinan sebagai pendukungnya. Sedang gaya kepemimpinan adalah perilaku atau cara yang di pilih dan di gunakan pemimpin dalam mempengaruhi pikiran, perasaan, sikap dan perilaku para anggota organisasi.[9]
1)      Tipe dan Gaya Kepemimpinan Otoriter.
Tipe kepemimpinan ini menghimpun sejumlah perilaku gaya kepemimpinan yang bersifat terpusat pada pemimpin sebagai satu-satunya penentu, penguasa dan pengendali anggota organisasi dan kegiatannya dalam usaha mencapai tujuan organisasi.[10]
Kepemimpinan ini di laksanakan dengan kekuasaan berada di tangan satu orang atau kelompok kecil orang, yang di antara mereka selalu ada seseorang yang menempatkan diri sebagai yang paling berkuasa. Pemimpin tertinggi  bertindak sebagai penguasa tunggal di lingkungan organisasinya, yang harus di ikuti dengan gaya kepemimpinan yang sama dengan pemimpin-pemimpin yang lebih rendah posisinya.

2)      Tipe dan Gaya Kepemimpinan Demokratis.
Tipe kepemimpinan demokratis menempatkan manusia sebagai faktor terpenting dalam kepemimpinan yang dilakukan berdasarkan dan mengutamakan orientasi pada hubungan dengan anggota organisasi.[11]
Dengan filsafat demokratis diimplementasikan nilai-nilai demokratis di dalam tipe kepemimpinan, yang terdiri dari:
a)      Mengakui dan menghargai manusia sebagai makhluk individual, yang memiliki perbedaan kemampuan antara yang satu dengan yang lain, tidak terkecuali di antara anggota di lingkungan sebuah organisasi.
b)      Memikulkan kewajiban dan tanggung jawab yang sama dalam menggunakan hak masing-masing untuk mewujudkan kehidupan bersama yang harmonis.
c)      Memberikan perlakuan yang sama pada setiap individu sebagai anggota organisasi yang maju dan mengembangkan diri dalam persaingan yang fair dan sehat.

3)      Tipe Kepemimpinan Bebas.
Tipe kepemimpinan ini pada dasarnya berpandangan bahwa anggota organisasinya mampu mandiri dalam membuat keputusan atau mampu mengurus dirinya masing-masing, dengan sesedikit mungkin pengarahan atau memberikan petunjuk dalam merealisasikan tugas pokok masing-masing sebagai bagian dari tugas dari tugas pokok organisasi.

Selain gaya kepemimpinan tesebut yang telah dijelaskan ternyata masih ada gaya yang lainnya dibeberapa referensi seperti :
1.      Kekompakan tinggi dan kerja rendah
Gaya kepemimpinan ini berusaha menjaga hubungan baik, keakraban dan kekompakan kelompok, tetapi kurang memperhatikan unsure tercapainya tujuan kelompok atau penyelesaian tugas bersama. [12]Dengan gaya kepemimpinan itu para anggota yang berminat pada hasil kerja bersama akan kecewa, karena mereka mengira bahwa mereka kumpul hanya untuk mengerjakan sesuatu, tetapi ternyata hanya untuk senang-senang. Suasana akrab tidak dapat lama bertahan dan pertemuan akan bubar, karena tujuan kelompok tidak tercapai.
2.      Kerja tinggi dan kekompakan rendah
Gaya kepemimpinn ini menekankan segi penyelesaian tugas dan tercapainya tujuan sebuah kelompok. Gaya kepemimpinan ini menampilkan gaya kepemimpinan yang amat direktif. Gaya kepemimpinan ini baik untuk kelompok yang baru dibentuk, yang membutuhkan tujuan dan sasaran jelas, dan kelompok yang telah kehilangan arah, tidak mempuyai lagu tujuan dan sasaran, tidak mempunyai criteria untuk meninjau hasil kerjanya, yang sudah kacau dan tak berarti lagi. Karena gaya ini memberi kejelasan tujuan dan sasaran.
3.      Kerja tinggi kekompakan tinggi
Gaya kepemimpinan yang menjaga kerja dan kekompakan tinggi cocok dipergunakan untuk membentuk kelompok. Kelompok yang baru dibentuk membutuhkan kejelasan tujuan dan sasaran itu, serta usaha untuk membina para anggota. Waktu menggunakan gaya kepemimpinan itu untuk membentuk kelompok, pemimpin perlu melengkapinya dengan contoh..
4.      Kerja rendah dan kekompakan rendah
Gaya kepemimpinan yang kurang menekankan penyelesaian tugas dan kekompakan kelompok cocok untuk kelompok yang sudah jelas akan tujuan dan sasarannya, gamblang akan cara untuk mencapai tujuan dan sasaran itu dan mengetahui cara menjaga kehidupan kelompok selama mencapai tujuan dan sasarannya.[13]
Keempat gaya itu tidak ada yang lebih baik atau lebih buruk dibandingkan satu sama lain. Tidak ada gaya yang baik atau buruk. Hal ini tergantung dari macam kelompok yang kita pimpin. Kepemimpinan yang baik tegantung dari kemampuan untuk menilai keadaan kelompok dan memberikan kepemimpinan yang dibutuhkan sesuai dengan tingkat perkembangan kelompok yang ada.

c.       Pendapat Para Tokoh Mengenai Teori kepemimpinan
Ada beberapa pendapat tokoh didalam buku psikologi sosial , yaitu : [14]
1.      Menurut Boring, Lavengeld dan Weld :
Kepemimpinan adalah hubungan dari individu-individu terhadap bentuk dari suatu kelompok dengan maksud untuk dapat menyelesaikan beberapa tujuan
2.      Menurut George R. Terry :
Kepemimpinan adalah aktifitas mempengaruhi orang-orang agar dengan sukarela bersedia menuju kenyataan tujuan bersama
3.      Menurut H. Goldhamer and EA.Shils :
Kepemimpinan adalah tindakan perilaku yang dapat mempengaruhi tingkah laku orang-orang lain yang dipimpinnya.
4.      Menurut Ordway Tead :
Kepemimpinan adalah aktifitas mempengaruhi orang-orang untuk bekerja sama menuju pada kesesuaian tujuan yang mereka inginkan.

5.      Menurut John Ptiffner :
Kepemimpinan merupakan seni dalam mengkoordinasikan dan mengarahkan individu atau kelompok untuk mencapai suatu tujuan yng dikehendaki.
Selanjutnya pengertian yang juga cenderung senada diketengahkan oleh Fremont E Kast dan James E Rosenzwigh di dalam A. Hasjmi Ali (1996:h.515) yang mengatakan kepemimpinan adalah kesanggupan untuk membujuk orang lain dalam mencapai tujuan secara antusias.[15] Perkataan membujuk atau mengajak pada dasarnya bermakna pemberian dorongan pada orang lain agar melakukan suatu kegiatan atau bekerja yang harus dilakukan tanpa paksaan, sebagaimana telah dikatakan dalam pengertian-pengertian terdahulu. Di samping itu maknanya dalam di perluas bahwa bujukan atau ajakan  juga berati pemberian dorongan dari luar, sebagai motivasi yang bersifat ekstrinsik. Dengan motivasi seperti ini diharapkan kegiatan dalam memberikan kontribusi bagi tercapainya tujuan organisasi dilakukan secara antusias dalam arti bersemangat dan bersungguh-sungguh dengan kesediaan bekerja keras dan di siplin
Berikutnya Harold Koontz, Cyril O’Donnel dan Heinz Weihrich mengatakan bahwa kepemimpinan adalah seni atau proses mempengaruhi orang sehingga akan berusaha mencapai tujuan organisasi dengan kemauan dan antusiasme yang tinggi. Pernyataan kepemimpinan sebagai seni pada dasarnya bermakna kemampuan menciptakan hubungan manusiawi berupa pengaruh yang menyenangkan dan memuaskan bagi anggota organisasi, sehingga bersedia melakukan suatu kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya.tidak ada pola yang pasti dalam mewujudkan pengaruh tersebut sebagai seni, karena sangat tergantung pada potensi dan karakter pemimpin dalam menggunakan keterampilan sosialnya

Pengertian berikutnya diketengahkan oleh George R. Terry di dalam terjemahkan winardi (1985:h343) yang mengatakan kepemimpinan adalah hubungan dimana seseorang yakni pemimpin mempengaruhi pihak lain untuk bekerjasama secara suka rela dalam mengusahakan tugas-tugas yang berhuhungan, untuk mencapai hal yang diinginkan pemimpin tersebut[16]. Senada dengan pengertian terdahulu, pengertian inipun menekankan pada kemampuan seseorang dalam mempengaruhi orang lain agar melakukan kegiatan
Kepemimpinan menurut Prof.Kimball Young adalah bentuk dominasi yang didasari atas kemampuan pribadi yang sanggup mendorong atau mengajak orang lain untuk berbuat sesuatu berdasarkan aksestansi atau penerimaan oleh kelompoknya, dan memiliki keahlian khusus yang tetap bagi situasi khusus.[17]
Berikut ini diketengahkan juga pengertian kepemimpinan yang penulis rumuskan di dalam buku Kepemimpinan Yang Efektif (1993:h.9) yang mengatakan bahwa kepemimpinan dapat di artikan sebagai kemampuan mendorong sejumlah orang agar bekerjasama dalam melaksanakan kegiatan yang terarah pada tujuan bersama.
Sedang di bagian lain diketengahkan juga suatu pengertian yang mengatakan bahwa kepemimpinan adalah kegiatan mempengaruhi orang lain agar melakukan kegiatan untuk mencapai tujuan yang akan di capai seorang pemimpin




Berikut ini akan diketengahkan beberapa pengertian kepemimpinan lainnya dikutip Gary A Yulk di dalam terjemahan Jusuf Udaya (1994:h.2) sebagai berikut:[18]
1)      Kepemimpinan adalah pengaruh antar pribadi, yang dijalankan dalam suatu situasi tertentu, yang diarahkan melalui proses komunikasi ke arah satu atau tujuan tertentu (Tannenbaum, Weschler&Massarik,1961)
2)      Kepemimpinan adalah perilaku dari seorang individu yang memimpin aktifitas suatu kelompok ke suatu tujuan yang hendak dicapai bersama(Hemhill&Coons,1957)
3)      Kepemimpinan adalah proses mempengaruhi aktifitas sebuah kelompok yang diorganisasikan ke arah pencapaian tujuan(Rauch&Behling:1984).
4)      Kepemimpinan adalah sebuah proses memberi makna terhadap suatu kolektif dan mengakibatkan kesediaan untuk melakukan usaha yang diinginkan dalam mencapai sasaran(Jacabs&Jacques:1990).
Selanjutnya Greenberg dan Bacon (2000, p.445) mengatakan bahwa kepemimpinan adalah suatu proses dimana seorang pemimpin mempengaruhi anggotanya untuk mencapai kelompok atau organisasinya. Sedang menurut James M Kouzes dan Barry Z Posner (1999:p.59) kepemimpinan adalah seni memobilisasi orang lain supaya ingin dan mau berjuang mengejar aspirasi bersama.
Kepemimpinan adalah unsur lain yang tidak bisa diacuhkan di dalam kehidupan kelompok. Khususnya kelompok yang lebih besar segera menghadapi permasalahan koordinasi, komunikasi dan administrasi menetapkan seorang pemimpin kelompok pengurangi permasalahan ini. Oleh karena itu anggota kelompok besar mungkin setuju menerima kepemimpinan.( forsyth, 1990:213, 220).[19]
Sejalan dengan pendapat tersebut Sondang P. Siagian (1994, hal. 36) mengatakan bahwa kepemimpinan adalah inti manajemen yakni sebagai motor penggerak bagi sumber dan alat dalam organisasi.
3.      Riwayat Hidup Penemu Teori
Niccolò Machiavelli (lahir di Florence, Italia, 3 Mei 1469 , meninggal di Florence, Italia, 21 Juni 1527 pada umur 58 tahun) adalah diplomat dan politikus Italia yang juga seorang filsuf. Sebagai ahli teori, Machiavelli adalah figur utama dalam realitas teori politik, ia sangat disegani di Eropa pada masa Renaisans. Dua bukunya yang terkenal, Discorsi sopra la prima deca di Tito Livio (Diskursus tentang Livio) dan Il Principe (Sang Pangeran), awalnya ditulis sebagai harapan untuk memperbaiki kondisi pemerintahan di Italia Utara, kemudian menjadi buku umum dalam berpolitik pada masa itu.
Il Principe, atau Sang Pangeran menguraikan tindakan yang bisa atau perlu dilakukan seorang seseorang untuk mendapatkan atau mempertahankan kekuasaan. Nama Machiavelli, kemudian diasosiasikan dengan hal yang buruk, untuk menghalalkan cara untuk mencapai tujuan. Orang yang melakukan tindakan seperti ini disebut makiavelis.
Niccolò Machiavelli seorang pakar teori politik Itali percaya bahwa keberhasilan seorang pemimpin sangat ditentukan oleh ‘statecraft’ yang dimilikinya atau keahlian sebagai seorang negarawan. Untuk memastikan seorang pemimpin itu berhasil atau tidak, dapat dilihat bagaimana cara ia menggunakan kekuasaan yang ada di tangannya. Penggunaan kekuasaan itu dapat dilakukan dengan banyak cara, termasuk cara-cara yang tak terpuji.
The Prince, yang ditulis Machiavelli tahun 1513, menyatakan bahawa semua pemimpin harus menggunakan penipuan dan akal licik, untuk mencapai tujuan mereka. Dengan lain perkataan, seorang pemimpin harus tahu bila ia harus berperanan sebagai singa, bila bertindak seperti musang, dan sebagainya. Perubahan karakter seorang pemimpin itu harus mengikuti keadaan. Ini bererti juga seorang pemimpin itu harus memberikan kesan di depan rakyat bahwa ia seorang yang lembut, pemurah, bahkan pro agama. Namun ia pun dapat berbuat jahat dan mengabaikan rasa sayang dan moral jika diperlukan.
Teori kepemimpinan yang diusung oleh Machievelli itu merupakan salah satu model kepemimpinan yang banyak digunakan oleh para pemimpin diktator. Bagi penentang teori ini, Machiavelli dianggap sebagai simbol kediktatoran dan kekejaman. Teori kepemimpinan Machievelli cenderung menghalalkan segala cara untuk mempertahankan suatu kekuasaan. Inilah menjadi pegangan yahudi yang amat bertentngan dengan islam.
Ia juga membenarkan sistem pemerintahan yang dijalankan penguasa bertangan besi, yang menolak pertimbangan moral dalam hal politik praktis.
Oleh kerana itu, tak hairan jika para Machiavellis, terutama para penguasa yang menjalankan prinsip Machiavelli ini dianggap sebagai individu dan kumpulan manusia yang membenarkan dusta, penipuan, penindasan, dan pembunuhan, termasuk pengingkaran sejarah asal stabiliti kekuasaannya mantap dan tidak tergugat.
Menurut Machiavelli, penguasa yang menjalankan aturan-aturan konvensional seperti petunjuk-petunjuk moral (agama) yang menekan justru akan menghancurkan kekuasaannya sendiri. Ia menganjurkan seorang penguasa itu mengabaikan pertimbangan moral secara total dan mengandalkan kekuatan dan kelicikan, termasuk mewujudkan kekuatan militeri yang dilengakp persenjataan terbaik. Seorang penguasa juga harus dikelilingi oleh menteri-menteri yang mampu dan setia, terdiri dari penjilat untuk mencapai kejayaannya.
Machiavelli juga mengajukan dua pilihan perbincangan, apakah seorang penguasa itu lebih baik dicintai atau dibenci/ditakuti. Menurutnya penguasa sebaiknya ditakuti dan dicintai, tapi kedua pilihan ini ini tak boleh disandang sekaligus, lebih mudah bagi seorang penguasa adalah ditakuti, kerana bila dia memilih untuk dicintai maka ia harus siap-siap untuk mengorbankan kepentingan demi rakyat yang mencintainya.
Dalam sejarah dunia, ada begitu banyak penguasa yang mengikuti teori kepemimpinan Machiavelli ini. Napoleon, Stalin, Hitler, Benito Mussolini, Slobodan Milosevic, Pinochet, hingga Pol Pot merupakan tokoh-tokoh yang mengambil langkah radikal dalam kepemimpinannya. Mereka menciplak habis teori Machiavelli untuk bertahan dalam tampuk kekuasaannya. Mereka diktator ulung pada masanya. Mussolini memuji-muji Machievalli di depan umum sebagai tokoh inspirator. Bahkan Napoleon menyelitkan “The Prince” di bawah bantalnya agar boleh membacanya berulang-ulang. http://aprian.blogdetik.com/tokoh-pencetus-teori-kepemimpinan/










C.ANALISIS DAN DISKUSI
1. ANALISIS
Menurut saya ( ratih setya andhini ) dalam penjelasan didalam pokok pembahasan yang telah dijelaskan mulai dari pengertian sampai definisi masing-masing teori, dapat disimpulkan bahwa banyak perbedaan pendapat antara beberapa referensi tetapi dengan adanya perbedaan tersebut akan saling melengkapi terhadap pernyataan-pernyataan yang dianggap kurang sesuai. Beberapa definisi mengenai pengertian kepemimpinan juga banyak sekali, saya setuju dengan beberapa pendapat para tokoh karena pada intinya seseorang melakukan proses-proses tertentu untuk mencapai suatu tujuan bersama.
Sedangkan konstruksi teorinya saya lebih setuju dengan teori sifat atau karakteristik kepribadian karena pada dasarnya kepemimpinan tersebut akan tercermin dengan sifat karakteristik yang dimiliki pemimpin tersebut.
Menurut  saya ( Lu’luil Maknunah ) , teori kepemimpinan ini sudah sesuai dengan kehidupan masyarakat saat ini, karena dalam teori ini banyak tokoh-tokoh berpendapat bahwa seorang pemimpin itu layak disebut sebagai pemimpin apabila dia mampu mempengaruhi orang lain untuk melakukan suatu pekerjaan yang didasari dengan sukarela untuk mencapai suatu tujuan yang diinginkan oleh pemimpin tersebut.
Banyak sekali teori yang menjelaskan tentang kepemimpinan diantaranya adalah teori Gart Man yang menyatakan bahwasannya pemimpin merupakan suatu sifat yang ada mulai sejak lahir, yang mana kepemimpinan itu berada pada orang tertentu yang memiliki bakat untuk menempati posisi sebagai pemimpin. Dan menurut teori Big Bang, kepemimpinan merupakan suatu peristiwa besar yang dapat menciptakan seseorang menjadi pemimpin yang memiliki anggota/pengikut oraganisasi sebagai jalan untuk mengantarkan sebagai seorang pemimpin. Yang dimaksud peristiwa besar adlah seperti revolusi,kekacauan, dan pemberontakan.
Dalam tipe/ gaya kepemimpinan terdapat 3 macam tipe diantaranya adalah tipe kepemimpinan otoriter yang menjelaskan bahwa seorang kepemimpinan yang menjadikan pemimpin sebagai satu-satunya penentu, penguasa,penengendali anggota oraganisasi dalam mencapai suatu tujuan. Dan kepemimpinan demokratis adalah kepemimpinan yang mengutamakan orientasi pada hubungan antar anggota organisasi. Dan kepemimpinan bebas adalah suatu kepemimpinan pada dasarnya berpandangan bahwa anggota organisasinya mampu mandiri dalam membuat keputusan atau mampu mengurus dirinya masing-masing.














2. DISKUSI




















A.    KESIMPULAN
1.      Teori kepemimpinan adalah suatu proses yang dilakukan seseorang dalam suatu kelompok ataupun sekumpulan orang untuk mencapai suatu tujuan bersama.
2.       


















DAFTAR RUJUKAN
Prof.Dr.Wibowo, S.E., M.Phil.2010.Budaya Organisasi.Jakarta.PT.Raja Grafindo Persada
Adair John.1993.Membina Calon Pimpinan.Jakarta.Pt.Bumi Aksara
Dr.Jurdi Syarifudin,M.Pd. 2010. Sosiologi islam dan masyarakat modern. Jakarta. Prenada Media Grup
J.Charles Keating.1986. Kepemimpinan Teori dan pengembangannya. Jogyakarta. Kanisius
Drs.H.Ahmadi Abu. 1991. Psikologi sosial. Jakarta. Rineka Cipta
Prof.Dr.Mar’at. 1985. Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta timur. Balai aksara
H.Nawawi Hadari. 2006. Kepemimpinan mengefektifkan organisasi. Jogyakarta.Gajah Mada University Press.
Dr.Sukidin.M.Pd. 2009. Sosiologi ekonomi. Jogyakarta. Laksbang presindo.
Dra.Kartono Kartini. 1990. Pemimpin dan Kepemimpinan. Jakarta. Cv. Rajawali









[1] Charles J.Keating. Kepempinan teori dan pengembangannya Hal 9
[2] Prof.Dr.Mar’at. Pemimpin dan kepemimpinan hal 7
[3] Ibid hal 8
[4] Ibid hal 20
[5] Dr. Syarifudin Jurdi.Sosiologi islam dan masyarakat modern hal 65
[6] H.Hadari Nawawi. Kepemimpinan mengefektifkan organisasi.hal 73
[7] Ibid hal 81
[8] Ibid hal 92
[9] Ibid hal 115
[10] Ibid hal 117
[11] Ibid hal 133
[12] Charles J.Keating Kepemimpinan teori dan pengembangannya hal 11
[13] Ibid hal 12
[14] Drs.H.Abu Ahmadi Psikologi sosial hal 124
[15] Ibid hal 22
[16] Ibid hal 23
[17] Drs.Kartini Kartono. Pemimpin dan kepemimpinan. Hal 40
[18] Ibid hal 27
[19] Dr.Sudikin.M.Pd. Sosiologi ekonomi. Hal 285

0 komentar:

Poskan Komentar